9.11.12

Pos Pengeluaran : Asuransi *)

”Insurance is not about someone dies, but others must live”

“Mobil diasuransi?” | “iya” | “Rumah diasuransi?” | “iya, kan kalau kredit pasti ditutup asuransi” | “Loe ada asuransi?” | “Engga” | “Ga salah? Benda mati diasuransiin, loe kagak? Jadi lebih sayang sama benda mati daripada kelangsungan hidup yang ditinggalkan?  | *mak jleb

Quoted from this blog :
Me and my wife needed to pay almost Rp 2 Billion throughout her 2 years course of treatment battling the super malignant ovarian cancer. Fortunately we were blessed with good health insurance hence only a small amount that we needed to pay by our selves.  If you don't get it from your companies, I'd suggest you get it yourselves and find a good one. You'll feel it's useless at first, and it is, until sickness comes.” 
Kalau tidak salah ingat, yang mereka keluarkan “cuma” 100 juta

Itulah - in random order - beberapa hal tentang asuransi yang melekat di otak saya

Lima tahun lalu (lama juga yee), Alhamdulillah tanpa mengeluarkan sepeser pun saya dapat training financial advisor dari Aidil Akbar. Dan beberapa poin penting dalam berasuransi yang masih saya inget adalah sbb:

  • Pilih produk asuransi yang benar, sesuai dengan kebutuhan. IMO : Ada yang merasa ”tertipu” dengan asuransi unit link? Merasa asuransi unit link adalah ”produk gagal”? Iya, memang agen asuransi.. upsie.. mereka lebih suka disebut financial advisor, booaaannyyyak yang pushy, yang kejar target mereka sendiri. Tapi in the end, apa ya mau terus mau menyalahkan mereka sementara dari kita juga tidak cek cek kiri kanan dulu, shopping – shopping dengan asuransi lain, membandingkan produk yang sama? Dan imho, asuransi unit link bukan produk gagal kok. Tapi memang sangat mungkin tidak sesuai kebutuhan.
  • Uang pertanggungan yang sesuai. Kalau melebihi, itu bagus (walau artinya premi yang dibayar lebih tinggi). Nah... yang kurang ini yang bikin pusing. Kalau kurangnya sedikit, ya tinggal adjust sedikit gaya hidup. Yang biasanya beli tas di mal, lantai dasar, new arrival sekarang cukup diskonan lah.. Yaa.. you get the point. Yang kurang banyak?? You might need jual aset, dan hidup sederhana. Berapa uang pertanggungan yang sesuai? Boleh cek di kalkulator financial. Contohnya sederhananya ada disini.
  • Untuk produk asuransi pendidikan, perhatikan bulan masuknya! Kalau you really depend on waktu pencairannya, ya atur – atur sebelum waktu buka pendaftaran. Paling mepet  mungkin yang cair bulan Mei ya.
  • Perhatikan nama yang tercantum di ahli waris. Apakah usianya sudah di atas 21 tahun, yang menurut UU di Indonesia sudah cakap hukum. Jadi seyogyanya, kalau membuka asuransi jiwa (utamakan yang menjadi tulang punggung keluarga yang membuka polis) dalam hal keluarga saya ya the husband yang buka polis, saya menjadi ahli waris. Apakah istri boleh buka? Ya boleh – boleh saja kalau ada uang ;p. Apakah ahli warisnya harus si suami? Mau engga juga ga papa. Bisa saja atas nama neneknya, sehingga (amit – amit) kalau hidup kedua orang tua terenggut bersamaan, sebelum ribet suribet klaim asuransi jiwa atas nama orang tua, yang ahli waris atas nama nenek bisa cair duluan.
  • Ga usah kebanyakan ambil rider. 3 sudah banyak. Konsul konsul dan konsul baiknya ambil yang mana.
  • Yang terakhir : beritahu ke pihak yang perlu tahu bahwa kita buka asuransi dan dimana letak polisnya.  Merahasiakannya would be foolish, karena bagaimana ahli waris tahu kalau ada polis asuransi? Daaan.. poin penting juga : cukup taruh polis asuransi di rumah. Jangan pernah di safe deposit, apalagi safe deposit Bank. Jangan lupa ada batas waktu klaim. Iya kalau batas waktu klaim 60  - 90 hari. Kalau hanya 30 hari? Sedangkan urusan dengan Bank belum selesai, artinya belum boleh buka safe deposit box.

Berikut adalah beberapa polis asuransi yang saya punya :

Termlife Insurance dari AIA
Kenapa saya buka asuransi ini? Singkatnya adalah di keluarga kami, sepeninggal Bapak, kami kakak beradik ikut urunan supaya dapur Rumah Cidodol tetap ngepul =)

Dan walaupun sampai sekarang belum jadi Bos, saya cukup tahu bahwa porsi urunan saya cukup signifikan.

Sehingga timbul kebutuhan. What if .. what if.. saya yang “dipanggil duluan” instead of my mom? Ga ada yang tahu umur orang kan? Dan betapa tidak tenangnya saya, kalau sampai ibu mengalami kesulitan finansial dengan tidak adanya saya. Cukup. Sudah cukup ibu saya mengalami kesulitan ini itu. Like I said before, I love my mom so very much. Jadi saya memastikan bahwa saya menyiapkan dana untuk beliau, walau saya tidak ada. Saya pun memastikan Ibu untuk tahu bagaimana cara mengelola dana itu. Simpel saja. Namapun sudah berumur. Bukalah deposito, jadi nasabah prioritas di bank yang kasih bunga tertinggi, hidup per bulan dengan bunga deposito.

So there, saya buka asuransi ini, dengan nama ahli waris ibu saya.

Kenapa jenis asuransi termlife?

Karena beda dengan asuransi jiwa murni, dimana secara garis besar, kalau si tertanggung belum “dipanggil” maka preminya hangus. Dan biasanya usia yang di-cover adalah sampai 70 tahun. Hla… eyang saya saja yang sudah 84 tahun masih segar bugar. Nah.. di asuransi term life yang saya punya, pertanggungan sampai usia 99 tahun.

Di asuransi termlife, selain ada uang pertanggungan juga ada uang hasil investasi dengan tingkat pengembalian (intermezzo. Harusnya para agen asuransi itu bilangnya – sama seperti jualan reksadana – adalah tingkat pengembalian. Bukan bunga. Ada resiko tidak tercapai) kurang lebih 14%. Dan hore-nya, setelah (kalau tidak salah) 7 tahun, uang ini boleh diambil oleh pemilik polis, tanpa menganggu uang pertanggungan.


Termlife asuransi dari Manulife
Polis atas nama the husband, ahli warisnya saya. Garis besarnya sepertinya sudah terangkum di atas ya.. kenapa saya lebih memilih asuransi ini ketimbang asuransi jiwa murni. Bedanya, yang keluaran Manulife ini walau juga ada uang hasil investasi, namun tidak dapat diambil. Sama sekali.

Kecewa? Engga lah. Daripada saya ada niat syaitonirodjim bujuk the husband ambil uang investasi kan mending tahu, kalau terjadi resiko, saya akan dapat uang pertanggungan plus hasil investasi.

Asuransi kesehatan dari Manulife
Kurang lebih asuransi kesehatan sama ya... Ada kelebihan, ada kekurangan.

Kelebihannya :

  • Yang saya senang adalah, asuransi kesehatannya bisa bundling keluarga. Jadi the husband, saya, dan Rania hanya memiliki 1 polis. Ini buat saya sih berguna banget. Karena pening juga kalau kebanyakan polis. Nanti kalau berani kasih adik buat Rania juga tinggal tambah klausula dan tambah premi saja.
  • Lebih dahsyat lagi adalah di asuransi kesehatan Manulife yang bundling keluarga ini, Manulife hanya menghitung 3 (eh.. apa 4) anak saja. Jadi anak ke 4 (atau anak ke lima) sudah bebas bas bas premi. Iiiy.. asik yaaa...
  • Dan asiknya, karena premi tergantung dari braket umur, umur tidak terpatok atas siapa yang paling tua. Kemarin diatur pemilik polis utama adalah saya, karena hitung – hitung hemat premi (sampai berjuta juta) beberapa tahun terkait usia the husband yang terpaut 5 tahun lebih, sudah masuk ke bracket premi yang lebih mahal. That’s just nice! (ibuk ibuk mana sih yang ga suka diskon)
  • Menurut agen yang notabene teman baik kuliah saya, Manulife diterima di semua negara. Beda dengan asuransi prud3nt14l yang konon tidak bisa di beberapa negara (sedikit sih. Kalau tidak salah Jepang sama manaaa gitu).
  • Proses reimbursenya cepat. Dan termasuk penggantiannya 100%. Saya tahu ada beberapa perusahaan asuransi yang list obat nya terbatas. Jadi kalau obat yang diberikan tidak termasuk list, ya tidak ada penggantian. Ketika Rania diopname, reimburse-nya  full. Dan ketika saya operasi yang didapat juga masih di kepala 16 juta. Dan karena saya juga klaim ke kantor, tentunya saat itu saya ucapkan... Alhamdulillah =)

Kekurangannya
Terus terang, saya jadi tergantung dengan agennya, alias teman saya itu kalau mau tanya ini itu. Beda dengan asuransi yang dijual di Bank, kalau ada apa – apa tinggal pergi ke cabang terdekat.

Asuransi pendidikan dari Manulife
Suka ada yang pandang skeptis tentang asuransi ini. Saya suka dengar ”dosa”nya sama dengan asuransi unit link, well.. based dari asuransi pendidikan ini juga memang unit link.

Then again, lihat lagi kalimat pertama pembuka post ini.
Saya dan the husband kurang lebih dibesarkan dengan kisah sendu yang sama tentang finansial. Kami kuliah dengan benar – benar menghitung uang, diliputi kekhawatiran apakah orang tua punya cukup dana sampai kami selesai kuliah.
Kami pun sama – sama (syukur Alhamdulillah) dalam situasi bisa membalas (sedikit.. oh sangat keciiiiiil) budi baik ibu kami (kami berdua yatim) dengan menyenangkan beliau, memastikan mereka hidup tenang. Berkecukupan.

Dan kami berdua setuju, it won’t happen to Rania. Rania akan mendapat ketenangan, dan insyaallah keleluasaan dalam memilih dimana dia akan sekolah. Walau tentu tarafnya belum sampai those fancy international schools.

Itu lah inti dari kami membuka asuransi pendidikan. Kalau sampai terjadi resiko pada kami, Insyaallah cukup dana Rania untuk tetap bersekolah, tanpa harus mengorbankan asset lain yang akan kami wariskan. Kalaupun harus ada adjustment, semoga cuma dari Harvard ke Nanyang. Aaaamiiien. Karena kami hanya mengandalkan diri kami. Kalaupun ada yang membantu, that’s just bonus of life. Walau  saya pribadi tidak mau, kalau anak saya ada hutang budi what so ever sama orang. No, that is not the way i was raised, and i’d like to keep it that way.

"Bego amat buka asuransi pendidikan. Lebih menguntungkan beli emas atau main saham". 
Sekarang kalau ente ga ada, sapa yang beli emas. Terhenti kan? Siapa yang mantau harga saham? Anak ente dah ngerti?

”Ribet amat sih. Udah kemakan banget omongan kapitalis. Ngga percaya apa Yang Maha Kuasa akan mencukupkan rejeki?”
Percaya. Tentu kami percaya. Tapi tentu hal itu ditambah dengan usaha dari kami dalam menjaga titipan-Nya. Dan ini bukan dana utama.  Jika nanti untuk masuk TK / SD / SMP kami belum perlu ya tidak kami ambil. Atau tetap dicairkan, tapi kami investasikan lagi.

Ishh.. emosional sekali bagian asuransi pendidikan ini. Jadi lupa intinya tentang plus poin asuransi pendidikan Manulife ;p

Yes, inti dari asuransi pendidikan biasanya jika terjadi resiko pada pemegang polis, maka premi asuransi akan dilanjutkan oleh pihak asuransi. Plus pointnya di Manulife, jika target investasi tidak terpenuhi, maka akan dipenuhi oleh Manulife.

Dan kemarin saya buat polis untuk Rania adalah bulan November. Dan dibuat umur Rania 1 tahun. Jadi nanti Rania usia 4 tahun lebih, sudah dapat cair. Cepat amat? Hey.. bukannya sekarang industri pendidikan makin menggila? Ada yang sudah mulai minta uang masuk dari anak baru lahir karena panjangnya waiting list. Jadi cuma lebih cepat beberapa bulan sih tidak terlalu istimewa ya.

Fiuuuh... itulah akhir dari polis – polis saat ini yang saya punya saat ini. Sungguh bukan postingan berbayar. Tapi kalau ada yang mau kontak agen Manulife yang menangani saya, I’d be happy to give Reynard's number. Basisnya di Jakarta, by the way.


 xoxo

JJ

*) Kenapa pengeluaran, bukan investasi? Ya bwookk.. mahal juga itu premi. Ga bo’ong deh. Kerasa banget dikeluarkan. Semoga bermanfaat

22.10.12

Gratisan… Gratisaaaan…

Haiiiii…

This is so not me. Blogging at this hour. Apakah yang begitu penting sehingga harus se ka rang ju ga?

Karena tadi di jalan pulang saya bengong bengong, memikirkan 2 voucher scalling (bersihkan karang gigi) yang mau hangus . Bihiiiikksss.

Lalu tiba – tiba tercetus ide, mungkin ada dari jeung, seus di Jakarta yang baca blog ini, yang sudah lama tidak berkunjung ke dokter gigi. Might as well give it to you =)

Jadi untuk informasi saya punya :
  • 2 (dua) voucher dari Vicitra Dental untuk paket dental A (Scaling, Dental Polishing, General Check Up + Cashback Voucher), Jl. Sultan Hasanuddin Dalam No. 18 Lt.2. (letaknya dekat dengan Kimia Farma Blok M)Telp 021-7221964
  • Voucher – voucher saya beli dari Disdus dan dapat dipindahtangankan
  • Voucher berlaku sampai 28 Oktober alias hari Minggu besok!!! (Harrrr.. makanya saya gemeesss. Kenapa baru kepikiran dikasih kasih aja *selftoyor)

How to get it?
  • Simple said something in comment box. It can be as simple as type “Hi!” or else. 1 entry comment per person only
  • Comment  saya tunggu sampai Selasa, 23 Oktober jam 16.00
  • Kemudian akan saya undi seperti kocokan arisan, dan akan memilih 2 pemenang (masing - masing mendapatkan 1 voucher)
  • Then wait for the my comment for the winner approx at 17.00
  • Then I will ask the winners to submit email address sehingga saya bisa kirim vouchernya
  • Saya adakan cepat, selain karena voucher akan kadaluarsa =(, sang pemenang juga harus kontak kliniknya untuk membuat janji scalling. 


That’s it. Semoga ada yang mau ya… Pliiisss.. dari pada angusss *mewek

xoxo

JJ

16.10.12

Rumah Sehat, Rumah Aman.

Adalah jauh lebih penting ketimbang rumah beautifully decorated. Kalimat rapalan saya, sebagai pelipur lara yang masih dalam tahap denial, karena : kenapa apa – apa harganya mahaaaaall?? (Ya loe juga sih, Yut. Sapa suruh boros)

Tapi bener kok. 100000%. Buat kami the husband yang bangun rumah dengan nyaris menguras seluruh tabungannya saking rasa sayange sama istrinya (perlu kantong kertas buat munti?) dan anaknya, our main concern pada tahap perencanaan adalah, bagaimana membangun rumah yang sehat, rumah yang aman. Terutama dengan adanya batita yang makin hari makin suka bereksplorasi *ketjoepsajangboeatRaniaTheExplorer

Apalagi saya selalu terngiang kelakuan kakak, laki – laki semata wayang, sang duli paduka penerus nama keluarga, yang ketika usia 5 tahunan sudah sukses buat ibu saya sport jantung karena mau nyolok garpu besi ke steker listrik. Dowar!!!

Anyway, these are few things yang kami terapkan. Would love to hear you guys share tips – tips rumah sehat rumah amannya =)

Air Bersih
Inget banget postingan Nita yang ini.  (makasih ya, Nit. Berguna banget)
Tidak…. Kami tidak sampai ambil sample air dan tes ke Sucofindo. Concern-nya hanya di jarak sumur ke resapan septic tank. Langsunglah tanya ke the husband :
“Sumur dimana sumur?” –  kiri belakang
“Septic tank?” – kanan depan
Dan karena rumah kami terletak dalam kompleks semacam kluster yang dibangun sedjak tahoen 1995, jadi tiap rumah kurleb dirancang dengan layout yang sama.

Pfiuuh… dengan garis diagonal, yang artinya garis terpanjang dari luas lahan yang lebih dari 10 m, semoga sudah masuk dalam kriteria aman dalam penyediaan air bersih ya.

Air PAM Alhamdulillah nyala… dua hari sekali.. zzzt. Air sumur, deras malam hari sampai subuh.  Dan dengan menimbang perlunya menampung air bersih, kami pun sedia 2 torant air masing – masing berkapasitas 250L (huhuhahahahaaa) lengkap dengan filter air nya. Over prepared much? =p


Cahaya Matahari & Pertukaran Udara
Rumah kami menghadap ke utara, dimana di pagi hari mendapat cahaya matahari pagi yang berlimpah. Sehingga sengaja semua kamar tidur (well, kecuali kamar tidur Mbak Sri) menghadap depan, lengkap dengan jendela bukaan besar plus loster. Say hello to natural light dan penghuni rumah (se)harus(nya) bisa bangun pagi!
Ditambah pula, genteng yang persis di atas void di area tangga menggunakan genteng transparan. Alhamdulillah lantai kedua sampai sore tidak perlu menyalakan lampu. Sementara lantai bawah masih harus di bantu 1 lampu dinyalakan agar penerangan jauh lebih baik.
Di kamar mandi dan dapur juga dilengkapi dengan glass box. Dapur ditambah dengan exhaust. Bukaaan… bukan exhaust canggih cooker hood gituuu. Jenis exhaust tanam dinding yang musti diceklekin. Insyaallah fungsinya sama =)

Sering kali masuk rumah sih Alhamdulillah lebih adem (tapi ga berkesan lembab) dari luar. Semoga menandakan sirkulasi yang baik =)

Tangga
Di depan anak tangga pertama, dipasang pintu setinggi pegangan tangga, demi mencegah Rania The Explorer ujug2 sudah di anak tangga ke 8 *hati mencelos, keringet dingin, si batita cengar cengir
Tepian anak tangga dibuat tumpul. Dengan menggunakan kuku macan. Per piece-nya kalau tidak salah enam ratus rupiah.
Jenis keramik pun dipilih yang agak kasar, sehingga tidak mudah selip

Teralis
Bye bye sudah keinginan punya rumah tanpa teralis bak rumah bule. Teralis selain terpasang di jendela, juga terpasang di balkon void tangga juga area jemuran.
Semoga dengan interior yang tepat, tidak terkesan terpenjara dalam rumah ya =)

Soket  Listrik
Soket listrik paling rendah diletakkan setinggi bahu saya. Dan kami pilih jenis soket yang harus diputar dulu, baru bisa masuk ke lubangnya.

Keramik lantai kamar mandi
Sepertinya sempat disebut di postingan ini mengenai kegundahan (halah!) memilih keramik lantai kamar mandi. Habis gimana dong? Konon 2 tempat yang menempati peringkat teratas untuk kecelakaan domestik adalah di dapur dan kamar mandi. Dimana untuk kamar mandi, hal yang sering  kejadian adalah kepleset akibat lantai licin.
And I grew up dengan ibu yang cleancoholic, dimana daftar bersih – bersih rumah termasuk sikat kamar mandi tiap 3 hari, terkait dulu almarhum Bapak tidak bisa menengokkan maupun menundukkan kepala. Jadi we were…I mean… are still really really extra careful about flooring.
Jadi, sudah bisa ditebak, pemilihan lantai kamar mandi prosedurnya termasuk mengelus – ngelus itu keramik. Jika dirasa licin, ya tidak dipilih.

Korden
Walaupun korden belum dibeli, tapi we I already had something in mind. Tidak akan ada kerai kayu atau kerai apapun yang melibatkan adanya tali kecil menjuntai. Banyak kecelakaan akibat imajinasi anak akan tali kecil menjuntai *merinding. Korden cukup dengan railing di atas, kemudian dipasang ring untuk hanya ditarik ke kiri ke kanan untuk membukanya.

Tumpul. Tumpul. Tumpul
Baik di tangga, seperti yang sudah disebutkan di atas. Kemudian tempat tidur, lemari, kitchen set yang handmade yang masih dalam pengerjaan – sang tukang sudah diwanti – wanti untuk membuat semuanya bersudut tumpul. Laci dapur tidak ada kenop, melainkan dibuat lekukan untuk membuka.

xoxo

JJ



3.10.12

1 Tahun Sudah


Mbak Sri, Sang Baby Sitter Handal ikut dengan keluarga kami.
 
Saya ingat sekali. Saya perlu baby sitter dalam keadaan mepet. Saya cuma punya waktu 3 hari. Karena cuti di luar tanggungan tidak disetujui. Inu, teman yang saya curhat-in (padahal ketika itu dia masih tinggal di Jerman), langsung gerak cepat cari info dan langsung whatssapp “Yut! Hubungi Eji. No-nya xxxx. Dia punya kenalan yang bisa carikan.” Thank yooou, girlfriiieeends.

Singkat kata, melalui wawancara yang sengaja saya judes – judesin “Yang penting kamu niatnya kerja.”. Sambil juga jelaskan sikon “Anak saya ini tidurnya mesti digendong. Kalau kamu ikut saya artinya selama weekday kamu ikut saya ke kantor”, we welcomed Mbak Sri into our family.

Dan di saat banyak sekali drama per- baby sitter-an, saya tahu bahwa saya beruntung mendapatkan Mbak Sri.

The superb PLUS list (that I can think of) :

  • Orangnya bersih. Mandi sebelum subuh dan menjelang magribh. Berakibat Rania juga bersih. Mandi 2x sehari, potong kuku tiap 3 hari, sikat gigi, bersihin kuping, dulu gundulin rambut Rania 3x.
  • Sayang dan sabar sama Rania. Poin penting banget ya. How do I know? Ya kelihatan lah ya… Tiap kali mereka berinteraksi. Mungkin karena Mbak Sri sudah menikah dan punya 2 anak. Anaknya yang bungsu setelah selesai disusui selama 2 tahun dan disapih, barulah dia cari kerja lagi. Jadi kayaknya sih menganggap Rania anak ketiganya =)
  • Mungkin karena sudah berkeluarga juga kerjanya jadi fokus. Suaminya pun (ketemu tiap kali jemput Mbak Sri cuti, tiap saya ke Jakarta) sopan, dan aura sering ke masjid untuk pengajian kerasa sekali.
  • Rania di 5 bulan pertama sangat sangat anak gendong. Dibaringkan 5 menit juga sudah nangis. Tapi berkat “didikan” Mbak Sri, dimulai dari bulan ke enam, berangsur bisa tidur ditaruh. Lewat 1 tahun bisa tidur 1 jam penuh di tempat tidur. Dan kalau terbangun, cukup ditepuk tepuk dan tertidur lagi. Menurut saya sih itu prestasi luar biasa.
  • Tapi sekarang Rania kalau malam suka susah tidur sambil disusui. Lari melulu. Ngok. Biasanya langsung digendong bobok dulu, baru dibaringkan. Dan lagu pengantar tidur? Lebih sering dengan Shalawat Nabi. *emaknya aja ngga bisa *tertunduk malu
  • Berbekal 1x belajar memakai soft cup feeder langsung dengan Dr Asti, langsung bisa. Kadang sih kalau isengnya kumat “Non.. Rania dibeliin dot gitu lho.” Cukup dipelototin juga, dia langsung nyengir nyengir.
  • Ga suka Rania pakai pospak! Wihuuu… katanya ”Biar Rania cepat belajar pipis di celana tuh ngga enak. Basah.” Sehingga seharian ya pakai celana saja. Kemudian setelah mandi sore pakai clodi,  lanjut ganti baju untuk tidur baru pakai pospak.
  • Pinter padu padankan baju Rania. Dari stocking, setelan baju, sampai headband matching. Penting dong yaaaa.
  • Pinter masak. Dulu 2 bulan pertama Rania masuk MPASI. Saya ngotot masak sendiri. Sampai saya kewalahan atur waktu. Akhirnya menyerah minta dimasakkin. Saya hanya pegang kontrol bilang masak apa. Pun sejak di Bandung juga termasuk bantu MIL di dapur, atau tiap saya pengen masak apa, dimasakin juga. Bisa dibilang Rania belum pernah GTM. She always find her way untuk Rania menghabiskan makanannya. Dan masakan dia buat keluarga juga enak. Katanya memang dulu di kampungnya dia sempat jualan mie ayam. Made from scratch. Ha! Belum pernah dijajal ni.
  • Intinya tiap kali dia tidak pegang Rania, dia selalu siap untuk bantu – bantu yang lain. Dulu malah sekalian nyuci baju Rania plus setrika, walau ada ART lain yang pegang itu. Sering banget bilang  “Udah ngga papa. Sama saya aja”. Tapi saya bersikeras, dia malam harus istirahat. Kalau tidak, mana dia punya tenaga untuk jaga Rania. Yang kian hari semakin aktif.
  • Jahit - jahit sampai tisik mentisik bisa lah. I'm so happyyyyy
  • Tabah di-bully kami. Kikikik. Sering kan kalau makan di luar, dia yang terakhir makan. Karena gantian dengan saya pegang Rania. Kami suka bilang “habisin semua ya.” Dengan kondisi makanan masih buanyaaak. Momen dia kelenger adalah ngabisin sea food ketika di Menega, Bali. Memang setahun ikut saya kok kayaknya lebih bohay ya. Hihihihihi.
  • Pinter mijet dan kerok! Hahaha. Beberapa bulan lalu saya sempat tepar, dan minggu lalu kirain flu tul ternyata gejala tipes. Badan terasa rontoook, tapi membaik sehari setelah dikerokin doi.

The MINUS list ;
Masalah klasik lah. Nyambi ngasuh sambil telpon.

That’s it. That’s the minus. Itu pun menurut saya. Menurut saya lho ya.. tolerable. Selama Rania masih dalam fokusnya. Siapa sih yang tidak rindu dengan keluarga. Ga kangen dengar suara anaknya (Anak – anaknya dengan kakek neneknya di Lampung), ga kangen suaminya yang hanya bisa ketemu 2 hari sebulan.

Apa resepnya punya baby sitter awet? GA TAU. I’ll jinx it lah. Lebih baik tetap menjadi misteri alam.

Ada yang mau Mbak Sri? Boleh lah. Mungkin saya lepas (loe kata ayam, Yut?) 5 tahun lagi dengan harga 4 juta per bulan dan calon majikan baik.

Kenapa 5 tahun lagi? Sapa tahu 2 tahun lagi sudah berani kasih adik buat Rania =p

Anyway, terima kasih sudah menjadi bagian dari keluarga kami, Mbak Sri. Semoga terus betah ya.

barbuk udang!



xoxo

JJ

5.9.12

Drama ASI part 7 : O PE RA SI (And The Post Op)

Okay.. ready for lucky number 7?

Unfortunately, not lucky for me at that moment  =p

Tapi sebelumnya, ada yang saya lupa selipkan di tulisan sebelumnya. Yaitu cerita 2 telepon ketika saya di kantor, setelah selesai dari rumkit pada Rabu 25 Januari 2012 :

Yang pertama adalah telepon dari the husband. Yang meminta memaksa saya untuk pesan kamar VIP. Kalau tidak ada, naik lagi saja jadi VVIP. Intinya the husband ingin kamar sendiri supaya saya bisa tenang. Super sweet! I remember I said “we cannot afford that. Plafond dari kantor aku cuma kelas 1, walau memang nanti juga bisa reimburse dari asuransi.”. “I’ll handle it. Kamu tenang aja”, he replied. Doweng. Tapi istri medit saya toh akhirnya tetap pesan yang kelas 1. Karena tahu bukan perkara harga kamar saja. Harga operasi dan visit dokter pun beda signifikan  kalau kelas kamar naik (tanya kenapa?). Kok ga rela ya.

Telepon kedua adalah dari kakak ipar yang seorang dokter Sp.PD (yang disambungkan oleh the husband). She’s a very relaxed person. “Yut.. tadi dokternya bilang apa?” she asked while giggling. Ketika saya selesai cerita, masih dengan nada santai  dia jawab “Yut.. yang namanya dokter bedah, gatel kali dia megang pisau bedah. Kamu second opinion dulu lah.”

Daaang. Second opinion. Kenapa ga kepikiran *pentung. Rania saja baru di DSA ke-4 ketahuan TT. Tapi dengan dihadapkan besok sudah terjadwal operasi, kerjaan setumpuk, mompa ASI, jujur... saya sudah tidak bisa mikir. Saya kacau balau. So I asked the husband untuk cari info tentang second opinion kondisi saya.

….


So, to the point the husband arrived.  The husband telah siap melaporkan bahwa operasi ini memang harus dilakukan. How so?

The Up Above sure work in mysterious way =)

Di sedikitnya waktu tersisa untuk cari second opinion, the husband menghubungi teman karib SMA-nya, seorang dokter bedah. Dimana sebenarnya sempat lost contact sekian lama dan baru saling berhubungan lagi 2 bulan belakangan. The husband menjelaskan kondisi saya, sampai titik temannya bertanya, “Siapa sih dokter istri loe?”

Dan ketika dijawab dr Myra, “Ya ampun.. itu rekan gue. Kami sempat bareng ambil spesialis. Bentar. Gue hubungi dia nanti gue kabari loe lagi”

Ya, begitu lah kira – kira pembicaraannya. Dan ya, begitulah.. temannya kembali kontak the husband “Istri loe memang harus operasi. Dan benar harus cepat.”

*bisik bisik : Disini ya.. saya haqqul yakin 99%, ada yang tidak diceritakan the husband tentang kondisi saya. Bahwa memang sudah se-urgent itu saya harus operasi. Tapi the husband mengerti saya, bahwa daripada istrinya stress (lagi. Stress melulu! Payah memang), mending dikasih tahu. Operasi. Titik.

So there we was. Saya, the husband, Rania, Mbak Sri. Kamis, 26 Januari 2012. Jam 8 pagi sudah di ruang rawat inap. Nitip – nitip ASIP yang mulai mencair dan buah Rania ke suster, mulai ganti baju operasi. Bwok.. ga pake apa –apa ya di dalemnya. Maaf ya norak. Namapun seumur hidup belum pernah dioperasi.

Intermezzo : coba.. betapa Yang Di Atas memang menguji umat-Nya sesuai dengan kemampuan. Untung Rania sudah mulai makan. Untung Rania sudah bisa tidur agak lama (walau harus digendong). Sehingga dengan bekal ASIP, buah, baby sitter handal, saya tahu dia akan baik – baik saja selama saya operasi kurang lebih 2 jam. Dan selama saya dirawat di rumkit di kelas 1 yang seharusnya dengan kapasitas 2 pasien, sampai checkout pun tidak ada pasien yang menempati tempat tidur sebelah. Sehingga saya bisa istirahat tanpa potensi gangguan dari pasien sebelah, the husband bisa numpang tidur, dan biaya perawatan sesuai dengan plafond dari kantor. Alhamdulillah =)

Jam 10an. Tiba – tiba ruangan terasa sangat dingin. Sampai saya menggigil. Tensi diukur kok ya naik. Tapi dr Myra yang visit sebelum operasi berkata “ah.. ini mah grogi aja mau operasi.” Ha! De javu.

Tidak dipungkiri. Saya takut operasi. Dipikir kenapa saya maunya lahiran normal? Bius total freaks me out. Galau berat deh pas sudah mulai didorong untuk pindah lantai, ke lantai operasi. Rania tidur di gendongan Mbak Sri. I kissed her dearly. The husband terus memegang tangan saya yang dingin. Up until the point where he couldn’t get in, I remembered bibir saya berkata bisu “I love you” and he replied the same. Mata saya mulai ngembeng air mata. Penakut yaaa. Biariin..


I wish I could type more about the operation. But I can’t. Masih diliputi trauma. For we believe, ada prosedur rumkit yang tidak dijalankan. Yang menyebabkan saya shock ketika mulai timbul kesadaran. Kami telah menegur pihak yang kami anggap bertanggungjawab. Dan kami pandang cukup. Dan selesai.


Alhamdulillah, operasi berjalan dengan sukses. Yang saya sempat khawatirkan setelah operasi adalah masa pemulihannya. Bahwa kalau saya melakukan aktivitas ringan seperti menggendong, mengangkat tangan, akan terasa sakit. Ternyata tidak. Sama sekali. I was in good hand. Thank you, dr Myra. So very much.

Dari dokter yang ikut mengawal operasi, saya tahu. Bahwa cairan abses alias nanah yang dikeluarkan mencapai hampir 100ml!! Hayoo.. yang biasa merah ASI. Bisa dikira – kira ya. Seberapa tinggi di botol. Dan saya sukses melongo. Tapi dengan entengnya, dokter yang sama berkata “Masih ada yang lebih parah, Bu. Waktu itu ada sampai wadah  alumunium berbentuk ginjal itu sampai penuh ke ujungnya.” Relieving ya.. dokter itu *sarcasm

Dari suster yang merawat, saya tahu bahwa kondisi itu bisa terulang. BUSETTT. “Iya, Bu.. ada yang baru pulang operasi, 2 hari kemudian timbul lagi di tempat berbeda dan operasi lagi.” Makasih lho infonya, sus *lemes

Dari hasil berdialog dengan dr. Myra, diketahui bahwa memang awalnya ini adalah saluran yang tersumbat. Makanya didiagnosa Gallactocele Mammae. Namun seiring waktu, sumbatan itu menjadi infeksi sehingga abses. Dan setelah saya ingat – ingat, memang pernah sekali. SEKALI. Saya tidak memompa. Botol yang saya bawa ke kantor habis di kantor jam 16.00, sampai memakai botol pompaan. Dan saya pulang jam 21.00 (biasanya jam 19.00 sudah sampai rumah dengan payudara cukup penuh untuk kemudian langsung menyusui Rania).  Setelah itu, langsung stok botol kosong di kantor! Juga dirunut, sebelum Rania didiagnosa Tongue Tied, memang payudara kanan yang sering diistirahatkan karena paling perih, paling sering luka dan bernanah.

Dari hasil bicara dengan dr Asti (kami pernah tidak sengaja ketemu ketika saya berobat jalan), saya sangat bersyukur ditangani dr Myra. Dari ceritanya, mereka berdua sempat berdebat tentang metode suction abses. Tapi akhirnya mencapai satu pemahaman untuk penanganan kondisi ini, tanpa “mencederai” kelangsungan menyusui. Dr Asti sempat cerita, ada pasiennya dengan kondisi sama seperti saya dan dirujuk ke dr Myra. Tapi pasien tersebut malah pergi operasi ke tempat lain atas dasar dokter bedah tersebut sudah lama dikenal keluarganya. Namun ternyata, dalam prosedurnya pasien tersebut diberikan obat yang mengeringkan ASI. Dan menangis lah pasien tersebut karena setelah selesai operasi tidak dapat menyusui anaknya kembali. Sedangkan saya? Setelah sadar paska operasi, ASIP yang dibawa habis, saya langsung dapat menyusui Rania. Alhamdulillah.

Dari total 5 hari saya rawat inap di rumkit kelas 1, biaya yang dikeluarkan adalah sebesar Rp. 16.506.500,-dan rawat jalan selama hampir 2 bulan ke depan sebesar Rp. 7.089.098,- belum termasuk ongkos taksi yang saya yakin mencapai angka Rp. 2.000.000,-. Rawat jalan adalah untuk pergantian perban di dalam luka sayatan (!). Iya.. saya tidak salah ketik. Jadi metode dr. Myra adalah sayatan suction abses (sekitar 2 cm) tidak ditutup jahitan, alias menganga. Kemudian “rongga” bekas cairan abses disisipkan kain kasa. Karena dr. Myra harus melihat, apakah jaringan dalamnya sudah tuntas tidak ada abses dan mulai membaik. Membaik artinya kalau kasa berlumuran darah merah segar. Sehingga prosedurnya : buka plester kedap air (yang sukses bikin kulit saya iritasi karena alergi), ambil kasa dari dalam kulit, tetesi obat penumbuh jaringan, sisipkan kembali kasa bersih, tutup dengan plester kedap air. Yes. I watched it eeeverytime. Ngilu? Perih? Ya iya lah! Tapi kemudian rongga tersebut mengecil dan saya terbiasa dengan prosedur penggantian kasa itu. Setelah 1 bulan lebih rongganya mengecil baru kemudian dijahit.

Dari perjalanan saya meyusui Rania yang sampai hari ini mencapai 14 bulan 5 hari, kadang di kala melamun saya suka kembali ke bulan – bulan awal Rania lahir. Even I didn’t think I made it this far. Rasa putus asa sering kali datang, namun seperti kata mommiesdaily : Breastfeeding : it's worth fighting for. Bahkan tempat saya bertumpu, the husband, sering kali berkata “Aku tuh lega banget, bersyukur banget Rania lewat ASI eksklusif 6 bulan dan ga muluk - muluk minta lebih. Kamu (saya) hebat.”. Tapi akhir – akhir ini kalau ipar saya suka ngeledek Rania “ih.. malu udah jalan masih netek.” The husband akan mengaum “Jatahnya masih 10 bulan lagi. Tangguuung.”. Hahaha. Dengan senang hatiiiiiiii. Dan untuk membuat hati (tambah) senang, I celebrated 1 year of breastfeeding Rania by buying this bag I was eyeing, sambil defensif berkata “Harganya cuma sepersekian kalau kita beli sufor berbulan – bulan, Ayaaaah”. Persis seperti tulisan @ID_AyahASI disini. Lihat yang poin no.2. Hohoho. Life’s good!

Thank you for your time reading episode drama ASI ini =). Doakan kami lancar – lancar saja menyusui 10 bulan ke depan. Termasuk lancar ketika Rania nanti 1,5 tahun mulai saya beri sugesti untuk bisa weaning with love, sampai akhirnya Rania sukses disapih. Can we say aaaamien? AAAAAMIIIIEEEN.

xoxo

JJ