3.8.12

Drama Asi – Part 3 : Mencari Jawaban

Pada kontrol Rania usia 1 bulan yaitu pada Selasa, 2 Agustus. Banjir air mata kembali terjadi di depan timbangan bayi karena Rania hanya naik 300 gr. Bahkan belum kembali ke berat lahir. Terbayang semua usaha 24 jam kali 30 hari Rania lahir. Siang malam disusui. Apa yang salah? Salah dimana? Sempat dites darah Thyroid dan hasilnya negatif. Pesan dari DSA pun  cuma susui terus.

Hari hari berlanjut dengan tanda tanya besar. Saya masih terus browsing kesini kesana (so sorry baby, I know it’s not right browsing  with blackberry with you nearby) juga bertanya pada para suhu ASI (halo Eva, Cecil, Rainy, Iwu, Eji). Everybody tried to assure me that Rania was fine. Otak saya berusaha menerima Rania was fine, tapi hati saya tetap merasa something was wrong.

Lanjut ke libur Idul Fitri, Rania ditunggu oleh nenek dan uwak – uwaknya di Bandung. Sungguh ketika itu saya merasa ketakutan ke luar kota pertama dengan Rania yang baru lepas 40 hari. Too many what ifs. I remember I had a fight with the husband because I was hesitate to go, tapi toh kami akhirnya tetap pergi.

Dan di Bandung, pertama kali Rania BAB warna kehijauan. Apa lagi ini? Tiga hari berturut turut. Sempat berhubungan dengan DSA katanya tidak apa apa. Tapi dari hasil browsing mengenai tekstur BAB, akhirnya saya kenalan dengan yang namanya hindmilk dan foremilk. Dan, Pertama kali.. Pertama kalinya saya yakin ASI saya banyak. Karena katanya BAB hijau artinya bayi baru minum susu ”depan” alias foremilk. CMIIW. Berarti Rania belum dapat ASI ”belakang” yang kaya lemak dong ya.

Senin, 5 September adalah kontrol Rania usia 2 bulan dan beratnya naik 700gram. Tetap saja saya berkaca kaca menahan tangis, walau the husband support me ”tenang .. kan katanya kenaikan BB 700gram normal.”

The same week, the husband encouraged me to pump again. Ketika saya bilang ”Ayah, aku nanya ke temen – temen, direkomendasikan yang elektrik aja”. And as a supportive husband and Ayah ASI he is.. langsung dia pergi ke ITC belikan saya breastpump yang dimaksud. Dan kali ini hasil pompa mendapatkan 10 ml (kedua payudara), meningkat 30 ml, 40 ml. ”Alhamdulillah”, said the husband while rubbing my back. Saya? Tersenyum setengah hati. But the husband kept encouraging me ”Inget ngga dulu pertama kali mompa ngga keluar? Ini banyak, Yut. Bersyukur ya”

Kemudian pada hari Jumat, 9 September 2011, atas saran dari Eva (yang sebenarnya sudah kasih tahu saya dari awal saya curhat namun belum dilakukan) adalah pergi ke klinik laktasi. Kami pun pergi, namun setelah 1 jam konsultasi kok sebenarnya masih mengganjal. Tapi oke lah.. katanya semua berjalan lancar.

During the next week, I felt something wrong again. Rania tidak seberat biasanya, pipis hanya 4 – 5 x dalam 24 jam. Dengan seijin suami yang saat itu sudah kembali ke Bandung, pada Rabu 14 September saya pergi lagi menemui DSA lain lagi (DSA ke-4), yaitu Dr Asti Praborini, Sp.A, ICBLC. Sebelum masuk ke ruang praktek beliau, tentu Rania ditimbang.. dan nyesss... benar dugaan saya. Dalam seminggu Rania turun 100gram.

Masuklah kami ke ruang praktek. Dan saya ceritakan – sambil terbata bata dan berlinang air mata -  keseluruhan dari awal kelahiran Rania. Tentang berat badannya,  tentang apa yang saya rasakan ketika menyusui.

Dr Asti kemudian bilang. ”Oke.. saya lihat 2 hal ya, Bu. Pertama saya lihat cara ibu menyusui, kemudian saya lihat anak ibu.”

Kemudian beliau lihat posisi saya latch on yang katanya sudah baik. Kemudian Rania dibaringkan ke tempat tidur, dan dicek… dan barulah diketahui akar masalah “Anak ibu tongue tied

Kemudian Dr Asti menggeret kursi ke depan saya. Menepuk nepuk lutut saya, menenangkan dan bilang ”Sudah, Bu. Ini bukan salah ibu. Bukan salah anak ibu. Hanya kebetulan dikasih kondisi seperti ini. Yang penting sekarang sudah tahu, mari kita ambil langkah perbaikannya.”

Intermezzo.. ini dokter ya.. baik bener! Ada temen yang anaknya susah latch on, datang ke ahli laktasi enyunowat the doctor did? Bentak ibu (temen saya) –nya lho “Ibu ini gimana sih. Anaknya kok ngga disusuin bener” kalau saya yang digituin pasti naik pitam binti drama. Yaaa.menurut ente.. kenapa temen saya datang ke enteee. Cari solusi bukaaan

Saya pun…. melongo. Saya memang sudah pernah browsing tentang tongue tied ini. Dan perasaan lidah Rania baik – baik saja. Tidak berbentuk hati. Ketika saya utarakan, beliau bilang “Tongue tied ada 4 tipe. Dan anak ibu yang tipe ke-3. Jenis yang tergolong ringan. Tapi karena ringan malah sukanya tidak terdeteksi. Anak ibu pasti tidak bisa menjulurkan lidah melebihi bibir mulut. Ini ya Bu.. ibarat payudara ibu adalah gentong ASI, yang harusnya mulut bayi pakai gayung gentong ambilnya, karena kondisi lidahnya pendek kayak ambil ASInya pakai sendok makan”. Hati saya mencelos… jadi 2 bulan 14 hari ini kamu itu kelaparan, baby??? Astaghfirullah.. Maafin ibu. Rasa bersalah ini belum hilang sampai detik saya mengetik post ini.

Melihat fakta yang ada (kenaikan BB bayi tidak maksimal, payudara saya luka), beliau berkata Rania harus diambil tindakan incisi frenetomi (tidak semua tongue tied harus di-frenetomi) yaitu pengguntingan tali lidah. Beliau menjelaskan prosedurnya. Yang sebenarnya minor saja. Katanya lebih sakit tindik telinga. Tidak akan ada darah. Kalaupun ada, nanti cepat disusui dan akan berhenti.

Bayi? Tali lidahnya digunting? Ngga ada suami? Saya pun mengkeret. Saya bilang, mau telepon dulu ke suami. Yang kemudian Dr Asti bilang, “Kalau suaminya tidak setuju. Berarti diundur saja ya, Bu. Soalnya yang kayak gini biasanya memang suami yang suka ngga setuju”

Hihihi.. si dokter mah men-generalisir ajuah. Bener sih, the husband sempet terkejut. Tapi wajar kan. Bersyukur the husband memang dibesarkan dengan kakak kakaknya yang menjadi dokter. Jadi tahu lah istilah istilah kedokteran. And by phone, he agreed.

Proses incisi frenetomi sangat singkat. Saya yang penasaran ikut melongok longok selama Dr. Asti melakukan persiapan sampai dengan melakukan prosedur tersebut. Rania cried a bit, tapi sedetik (lebay) setelah pengguntingan dilakukan, Rania langsung diangsurkan ke saya untuk disusui. Rania pun terdiam. Dan saya juga merasakan perubahan yang instan terasa. Payudara saya tidak terasa terparut parut! Alhamdulillah.

Apakah sudah selesai dengan tindakan incisi? Tentu tidak. Tapi posting ini sudah kepanjangan. Bersambung lagi ya..

xoxo

JJ

No comments: