30.5.14

Inggris Khusus Untuk Pemberani

Kamu pikir kamu sanggup menghadapi Inggris? Coba cek dulu hal – hal yang akan saya ketik berikut. Kalau semua kamu jawab “Ya, saya berani.”, boleh deh ikut Mister Potato ke Inggris.

Di saat kamu menyentuh terminal keberangkatan di Bandara Internasional Soekarno Hatta, Jakarta - apakah kamu sudah siap dengan total travel time selama kurang lebih 16 jam? Enam. Belas. Jam. Di. Udara. Sanggup? Kaki mungkin bengkak, sebelah kamu ngorok dan ileran, mungkin ada turbulence. Berani? 

Ketika mendarat di Bandara Internasional Heathrow, London. Apakah kamu sudah tahu bahwa bandara tersebut sangat sibuk? Dimana tahun 2013 kemarin, rata – rata penumpang yang datang dan dan pergi adalah sejumlah 191.200 orang per hari. Hati hati ya… terpisah dari rombongan. Belum lagi, harus langsung menghadapi jetlag. Perbedaan waktu adalah sekitar 7 jam – London GMT+1 sementara Jakarta GMT+7. Kamu mendarat jam 16.00 waktu setempat? Jam biologis badan kamu berkata, “ini sudah jam 23.00”. Sehingga itinerary hari tersebut masih panjang, namun bisa jadi kamu sudah luar biasa lelah. Jetlag pun bukan satu – satunya yang harus dihadapi. Masih ada  perbedaan suhu, dimana suhu di Jakarta berkisar 30 derajat celcius, sementara musim gugur di London berkisar di 16 derajat celcius. Mungkin untuk latihan, coba jalan – jalan di Lembang sebelum subuh. Berani?

Football Holliganism. Mungkin sejak tahun 2000an kita sudah tidak perlu khawatir tentang aksi holligan di lapangan bola. Namun masih saja ada satu dua kejadian yang sayangnya masih mewarnai pertandingan sepakbola. Sebut saja pada 19 Oktober 2012, pertandingan antara Sheffield dan Leeds United dimana seorang fans Leeds menyerang penjaga gawang Sheffield United. Atau ketika semi final FA Cup, Millwall melawan Wigan Athletic pada 13 April 2013. Dimana Fans Willmall malah terlibat perkelahian antar mereka sendiri. Oke, Yut. Stop. 7 stadium yang akan dikunjungi tidak ada yang tersebut di atas. Jadi pasti tidak ada yang takut.

Oooh.. bagaimana dengan kalian yang Demophobia, alias Agoraphobia, alias memiliki phobia dengan kerumunan? Apa tidak tahu kapasitas stadium – stadium yang akan dikunjungi? Ini ya.. saya beri tahu *intip Wikipedia : White Hart Lane Tottenham  36.284 tempat duduk, Goodison Park Everton 40.157 tempat duduk, Stamford Bridge Chelsea 41.798 tempat duduk,Anfield Liverpool 45.522 tempat duduk, Etihad Stadium Manchester City 47.805 tempat duduk, Emirates Stadium Arsenal 60.361 tempat duduk, dan tentu saja yang paling besar kapasitasnya adalah Old Trafford Manchester United 75.731 tempat duduk. Itu kalau pertandingan terisi penuh, manusia semua lho. Berani?

Ada yang Acrophobia alias Altophobia alias phobia pada ketinggian? Lalu bagaimana kamu akan naik London Eye, salah satu bangunan modern yang menjadi ikon di Inggris? Kalian tahu wahana Bianglala di Dufan? Tanpa bermaksud merendahkan, Bianglala yang setinggi 33 meter bisa dibilang “bayi” dibanding London Eye yang setinggi 135 meter. Artinya London Eye 4 kali lebih tinggi dibanding Wahana Bianglala. Saya ulang ya… Tingginya seratus. Tiga. Puluh. Lima. Meter. Berani?

Kemudian ada bangunan indah di London bernama Westminster Abbey, atau resminya bernama Collegiate Church of St Peter at Westminster. Banyak sekali peristiwa bersejarah di gereja yang bergaya gothic ini, mulai dari pernikahan, coronation, sampai tempat peristirahatan terakhir bagi raja, kaum aristokrat, biarawan. Kalian yang Ecclesiophobia (phobia pada gereja) atau / dan Coimetrophobia (phobia pada kuburan) apa kabar? Berani?

Untuk yang Chronomentrophobia alias phobia pada jam dan mau mengatasi ketakutannya, harusnya dimulai dari foto bersama The Clock Tower – Big Ben. Dari jauh saja. Karena konon bunyi lonceng  Big Ben, suaranya bisa terdengar sampai radius 5 mil. Duh.. foto 5 mil masih keliatan tidak ya? Mana loncengnya setiap 15 menit sekali. Kalau fotonya lebih dekat berani? 

Hush Ah. Cukup tentang phobia. May you heal from your phobia. But move over from this competition *senyum manis

Yang terakhir, cerita horror saya sepanjang masa bukanlah monster di bawah tempat tidur maupun film Candy Man. Bukan juga nominal saldo rekening 3 hari menjelang gajian. Yang membuat saya sewaktu kecil tidak berani tidur sendiri, minta ditunggu di luar pintu kamar mandi, sampai cuci muka dengan mata terbuka adalah film horror yang diinspirasi oleh kisah nyata pembunuhan berantai yang terjadi di sekitaran East End London sekitar tahun 1888. Saya samar samar ingat, London digambarkan sebagai kota yang begitu gelap, gloomy, berkabut. Kemudian tokoh pembunuh ini begitu sadis, dan kesemua korbannya adalah wanita.  Duh Gustiiiii… anak belum ada 10 tahun sudah nonton horror macam ini. Yah…namanya juga anak bungsu, ingin “dianggap” oleh kakak – kakaknya. Namanya juga akhir tahun 80-an yang belum kental pemetaan tontonan macam parental advisory. Film yang saya tonton adalah Jack The Ripper. Coba dicari di search engine bagi yang tidak tahu. Celakanya, di akhir film, tokoh tersebut digambarkan menceburkan diri ke Sungai Thames, dan diakhiri penutupan : “Dia dapat datang sewaktu waktu” *telapak tangan keringetan. MAMIIIII… Tahun 2013 kemarin adalah peringatan peristiwa Jack The Ripper yang ke 125 tahun. Sekarang pun di London ada tour yang bernama Jack The Ripper Tour – The Original London Terror Walk. Walaupun masa anak kecil saya cukup traumatis akibat film ini, saya mau ikut tour ini lho *gandeng erat – erat Mister Potato. Kalau kamu, berani?



23.5.14

The Background & The 7 To Do List

This is my blog entry. Just sit back and enjoy *sodorin Mister Potato.
(Buat Mister Potato, sodorin sisir buat nyisir kumisnya biar tetep ganteng)

The Background

The Royals
Hello… let me take you back to the early of 1988. My uncle just came from England and he brought 2 VHS records (how jadul was VHS! Ha!) and a book. The 1st video and book was The Royal Wedding of Prince Andrew Albert Christian Edward Duke of York and Sarah Margaret Ferguson Duchess of York . And being a child who was very much spoiled by Disney Princesses, I was…. Mesmerized. Wow… the kingdom, princess, royal family, long gown, jewel crown truly exist! They’re not cartoon!

Buku yang mengawali semuanya. Jangan tanya VHSnya ya. Fungus ate them.

Royal Family! They exist!
 And yes, from then my childhood consisted of me pretending to be a princess : wearing blanket as long gown, my mother’s necklace as crown, and danced with my invisible prince as if I’m in a ballroom of a castle. Oh.. those days. Sweet!

The Accent
The 2nd video was Miss World 1987 that was held in England. And that was. When. I. Met. My. 1st. Puppy Crush….. Rick Astley who performed that night. Who was that baritone fine man in suit with a strange but hypnotizing accent. Dari situ, ceeuuuuk… kelepek kelepek tiap dengar English accent. 

remarks : i do not own the pic. i google it.
Tidak harus laki laki. Apakah masih ingat serial Friends (anak 90an banget yaa) : Emily, pacarnya Ross? Aksennya keren. Keren Parah. Apalagi ketika edisi The One with Ross’s Wedding, dimana mereka pergi ke Inggris. Don’t you just love Joey Tribianni’s adventure? Sarah Ferguson Duchess of York  pun jadi Cameo. Love love love.

The Beatles
Kecintaan pada the Beatles dimulai ketika masih SD main ke rumah teman, dan ibunya memutar laser disc (duh.. VHS, laser disc, revealing age much?). dan I Want To Hold Your Hand terpampang layar TV.
Hati ini langsung berdegup degup. Ini siapa? Ini belahan dunia sebelah mana kok modenya beda dari keseharian saya disini? Ini iramanya kok bikin aku ingin bergoyang.
Lalu bertanyalah, “Tante… ini siapa, Tante?”.
Dan jawabannya langsung bikin patah hati, “Ini namanya group The Beatles, Yut. Mereka terkenal sekali ketika Tante muda.”
“Hlo.. jadi mereka seumuran Tante?”
“Iya. Malah itu vokalisnya sudah meninggal.”
Melongo. Tapi toh saya malah asik ikut nonton menyelesaikan klip – klip The Beatles. Mengetahui lagu – lagu yang lain. Sungguh lagu – lagu mereka tak lekang oleh waktu ya. Kecintaan pada The Beatles juga ikut mengiringi pesta resepsi saya dan suami, dimana mengalun lagu Till There Was You. I love you, The Beatles Suwamik.

The Red Devil
High School years were tough. Kami the girls suka “terusir” kalau the boys sedang seru membicarakan bola. Sehingga berawal dari terpaksa, kami the girls mulai baca tabloid olahraga, nonton bola. Demiii… demi nyambung kalau ngobrol dan supaya menang kalau taruhan. Tapi toh akhirnya kami mulai senang bola dari hati. Mulai fanatik. Apalagi sudah masuk ke tahap punya pemain favorit. Mine was David Robert Joseph Beckham & Peter Bolesław Schmeichel. And naturally, I’ve become Manchester United fans! And witnessed the ultimate game of Manchester United by far : 1998 – 1999 Treble Of Trophies Season! Yang highlightnya tentu saja ketika final Liga Champion, Teddy Sheringham dan Ole Gunnar Solkjaer masing masing menyumbang gol di injury time! Merindiiiing. Menggilaaaaa.
Dan awal minggu ini, the legend of that era. Ryan Joseph Giggs menyatakan gantung sepatu, lalu kedatangan Meneer Belanda untuk menjadi coach baru. Sungguh timing yang luar biasa kalau saya dapat mengunjungi Old Trafford. Semoga membawa angin perubahan dan dapat meraih gelar lagi! #GGMU !

The 7 To Do List
So. Those were the whys I am sooo much fascinated by England and hold a special place in my heart. And based on that…..

Yo, I'll tell you what I want, what I really really want,
So tell me what you want, what you really really want,
I'll tell you what I want, what I really really want,
So tell me what you want, what you really really want,
I wanna, I wanna, I wanna, I wanna, I wanna

Kok malah nyanyi lagu Spice Girl. Anyway, below are  the what I’m going to do in England :
  1. Mau menantang Catherine Elizabeth Middleton Duchess of Cambridge  untuk foto ala haute couture di depan Buckingham Palace. Sudah belajar ilmu angle dari Kate Moss sama Cara Delevingne – model kondang dari Inggris. Tinggal pinjem gaunnya Tex Savario. Pasti menang deh. #okesip
  2. Mau pegangan tangan sama Sir James Paul Mc Cartney , Richard Starkey a.k.a Ringo Starr dan cenayang di The Beatles Museum. Mau memanggil arwah John Lennon dan George Harrison. Ngobrol ngobrol sambil minum teh Twinnings dan muffins. Hey, bukan tidak mungkin kami akan menggubah lagu baru The Beatles! 
  3. Mau duduk di stadion Old Trafford. VIP area. Atau tepat di belakang bangku cadangan sambil ngemil Mister Potato (please banget pabean Inggris… supaya snack favorit ini bisa lewat). Tentunya sambil ajak semua pemain selfie bareng. AAAK!!! To die for! Tolong Iyut, Ya Allah. Kabulkanlah. Aaamien. Mungkin Mister berpikir, “Sombong amat ini anak. Bisa – bisanya duduk ketika di depan pemain Manchester United.”. Masalahnya, Mister…. Tidak yakin sanggup berdiri. Ini lutut pasti lumer, jantung sudah ndredheg lihat Van Persie, Juan Mata, David De Gea. Eh. Apa nongkrongnya di kamar ganti pemain ya? ”KAMU MAU NGAPAIN, YUUUT”,dijewer suwamik. “Mau bagiin Mister Potato, Suwamik” *kalem.
  4. Dan ketika bertandang ke 6 stadion lain? Saya bantu yang mau foto – foto dengan berbagai gaya. Apa? Mister sudah sediakan fotografer? Ya Ampuuun.. baik banget siiih *salim. Kalau begitu, mau saya habiskan memory card untuk foto dan upload ke semua social media yang saya punya. Lengkap dengan location name. Dan karena saya orangnya agak ngeselin baik hati, akan saya tag teman saya yang gibol dan hardcore fans Chelsea, Arsenal, Tottenham. Hotspur, Manchester City, Liverpool, Everton. Sharing is caring, right? Maksudnya kan baik… biar mimpi mereka suatu hari mengunjungi stadion tersebut juga terwujud *rapiin poni.
  5. Anaknya ga sabar nunggu  Maret 2015. Jadilah minta private concert sama One Direction. Dan akan crazy crazy crazy ‘till we see the sun bersama – sama di dalam 1 tube London Eye dengan Benedict Cumberbatch, Ralph Fiennes, Keira Knightley, Chris Martin, Kate Winslet, Carey Mulligan, Colin Firth. Mau chill bareng saja. Sambil perfecting my English Accent, enjoying the scenery. Bang operator.. tolong diputer 10x ya, Bang.
  6. Foto berlatar Big Ben. Di antara pohon dan daun di musim gugur yang berubah warna. Jam 01.55 tengah malam (plis banget ditemenin ya, Mister . Atut juga di negeri orang tengah malem). It is my gift to you, dear daughter. For I gave birth at this hour. I always remember the moment Allah gives me an angel. You. I hope the photo inspire you. So that one day, I hope you can take the exact same photo in the exact same place.
  7. Siapa yang berani bilang ke Inggris tapi mengakunya tidak shopping, maka akan saya sorakin…1…2…3.. : BOHOOOOOOONG. WOWOWOWOOO. Apalagi konon Mister akan kasih uang saku 500 Euro! *sungkem Mister. Ya pastinya saya akan shopping. Harrods sebelah mana Harrods? Butik Stella Mc Cartney?  Make Up Burberry mana? Merchandise khas Inggris, Bola sampai Harry Potter? Buka PO aja apa ya? Murah qaqaaa. Maap. Anaknya kebanyakan on line shopping.
Jadi… Mister Potato.. Mister mau kan ajak saya ke Inggris? Mister boleh cek. Twitter saya xoxo_iyut sudah follow akun Mister. Pun akun facebook saya Iyut Soemowidjojo sudah like Fan Page Mister. Baiklah, sampai waktu  hasil pemenang diumumkan, saya mau makan Mister Potato dulu yaaa. Have a good day!

Misses Potato. Yariba! Yariba!



2.4.13

Libur Paskah

Nganterin si shio kelinci berbaju kelinci untuk ngelus kelinci =))))


















xoxo

JJ

1.4.13

Bangkok Day 2 : Heat Stroke!

Jatujak Weekend Market : BTS Ekamai – BTS Mo Chit (TBH 40)

Berada di Bangkok ketika akhir pekan, tentunya itinerary kami hari ini adalah pergi ke Jatujak Market. Setelah sarapan ala kadarnya (toast + chrisantinum tea) kami berjalan ke BTS Ekamai. Hari ini kami memutuskan untuk membeli tiket terusan harian seharga TBH 130.  Rasanya lebih praktis, karena tidak bolak – balik mengantri 2 kali (di antrian tukar uang logam lalu antrian mesin tiket). Dan karena itinerary kami hari ini penuh, rasanya akan lebih hemat.

Sampai di Jatujak jam 8.30 untuk mendapati… belum jam operasional!  Hihihi. Ini memang infonya agak simpang siur sih. Ada yang bilang jam 7.00 sudah buka, tapi memang supir taksi bandara kemarin bilang baru buka jam 9.00

Baiklah.. Si Mbok cari sarapan dulu. Makanan dan minuman banyak kok di Jatujak. Jangan khawatir. Kalau was was itu babi atau bukan, ya tinggal pilih pad thai sayur atau pilih lah seafood. Cemilan juga melimpah. Mau yang goreng gorengan ada. Bakar bakaran juga ada. Kemudian duduklah kami di suatu kedai, dan Mbok pesan semacam ramen, karena baru itu yang ada. Saya tidak pesan apa – apa karena masih agak kenyang. Tak lama, muncul lah berbagai tray dengan aneka lauk. Ishhh! Sini naksir bener sama lauk –lauknya. Ada sardine yang disiram semacam sambel matah gitu kok harumnya menggiurkan sekaliii. Nanti lah untuk makan siang

Oh iya, jangan lupa ambil  peta Jatujak Market di pos pintu masuk.

Berguna ngga sih peta itu? Engga juga...

Eits.. sebelum disambit sama yang buat peta, biar saya jelaskan dulu. Jatujak Market terdiri dari ribuan kios. Yang kami perhatikan hanya bagian yang tidak ingin kami masuki, seperti bagian yang jual binatang. Sisanya, kami masuk di area baju, dan mulai tersesat terkendali di dalam lorong – lorong kios *lipet map. Taroh di tas



Puluhan Bath cepat lenyap deh disini. Ada saja alasan untuk belanja : gantungan handuk tangan berbentuk gajah, magnet kulkas, kaos kaos lucu TBH 30 – TBH 50,  Atasan bahan lace TBH150 (jenis yang dijual kembali di ITC 140 ribu ngga boleh kurang), beli minuman, cemilan. Untuk printilan rumah juga banyak dari lampu sampai taplak. Pun mbok dapat kain sutra Thailand titipan teman kantor. Dan benar kata orang di forum Tripadvisor : kalau sudah suka, dan nawar ngga dapet, jangan sok sok jual mahal ntar balik lagi. Iya bagus kalau kiosnya ketemu. Kalau engga gimana, kakaaaak.






Ta ta tapi… ada toko yang bikin kami betah! Ada mungkin kami disitu setengah jam. Yaitu toko tissue! Gustiiiiiii… lucu – lucu amaaaat.







Sagala aya lah. Yang demen bikin theme party pasti mborong deh.

Si mbok begitu tekun mengumpulkan semua yang bertema kucing (a cat fetish that she is). Sementara saya mencari tema xxx dan yyy untuk di dadidu dan lalilu*sok rahasia.

Saya dengan riang menjelaskan kalau tissue itu mau di frame. Yang ternyata, menurut pemilik tokonya jangan, karena sifat tissue yang rapuh. Dia merekomendasikan cara supaya awet. Ketika dia menjelaskan metodenya, saya mbatin, “ini kok kayak teknik yang saya baca di blog Jeng Rika“. Sejurus kemudian si ibu bilang “You can search it on youtube : Decoupage”. Eyalaaah.. memang bener tho. Oke. Ada proyek nih. Di situ saya pun membeli lem dan vernish-nya. Doakan tidak kadung malas bikinnya ya =)

Si pemilik tokonya ramah sekali. Dan begitu tahu kami dari Indonesia (gimana engga, kami berdua suka terpekik heboh sambil komentar), dia tambah ramah. Rupanya suaminya orang Bali. Dan baru pindah kembali ke Thailand setelah bermukim di Bali.

Hosssh.. adrenalin rush surut (duilee.. nyari tissue aja pake adrenalin) tiba tiba.. kliyengan. Sudah terasa panas sekali di Jatujak, dan ternyata sudah masuk jam makan siang. Kami kembali ke kedai awal, untuk tahu si sardine inceran sudah habis. Yastra lah.. makan mie kuah aja.

Setelah makan, masih kliyengan juga. Haduuu... ini mah heat stroke.  Memang pas kesana, panasnya ngga nahanin banget. Kami pun sepakat mengakhiri kunjungan kami disini. Jadi.. jangan lupa kesini bawa topi yaaa…

Oh Iya. Di Jatujak saya juga membuktikan benar apa yang di suatu forum yang saya baca : bahwa Jatujak Market telah menjadi kawasan turis komersial. Pembandingnya adalah jus jeruk. Di Jatujak, ukuran small adalah TBH30 dan ukuran besar TBH50. Padahal di daerah Sukhumvit, masing masing hanya TBH20 dan TBH30 saja. Begitu juga dengan minuman kelapa batok kecil. Beda sekitar TBH30 dari di Sukhumvit. Jreeeng!

Jim Thompson Museum House : BTC Mo Chit -  interchange BTS Siam – BTS National Stadium

Setelah panas – panasan di Jatujak… dan juga jalan turun BTS National Stadium sampai ke Jim Thompson Museum House, senang banget mendapati areanya rindang.

JTMH ditata dengan apik. Ketika masuk dan membayar HTM sebesar TBH 100 (sudah include tour museum dengan guide),  kami disuguhi pemandangan 2 penari tradisional dan seorang pemintal benang ulat sutra.

Kemudian karena tournya masih 20 menit, kami memutuskan untuk berkeliling. Melihat area rumah, mengintip kafe yang rindang yang dibatasi oleh kolam ikan, lalu terdampar di tokonya, karena ngejar dingin AC. Hihihihi. Barangnya bagus bagus bangeeett… Ada tas tangan berbagai model, taplak, dasi, baju, boneka. Tapi karena tiap kali pegang barang yang diincer kok harganya di atas TBH5000, ya saya taroh lagi di etalasenya =)




Group tour kami seru juga. Ada mbak – mbak keturunan Jepang tanya “I heard he (Jim Thompson) was a CIA agent. Is it true?”. Hihihi. Tour guidenya pun 90% artikulasi bahasa inggrisnya bisa saya mengerti (10 % sih mungkin juga sayanya yang rada budeg ya *nyengir). Kemudian ada sebuah peta Thailand yang di hand paint. Saya sukaaa banget. Ternyata di souvenir shop menjual replika peta tersebut *bungkus

Sayang kami tidak boleh foto di dalam rumahnya. Ini adalah link website-nya. Kali aja ada yang tertarik =)

Ikea, Mega Bangna Mal : BTS Ekamai – BTS Udom Suk, ambil exit 5 – Free Shuttle Bus (berdiri depan apotik)

Selesai dari JTMH, kami putuskan untuk kembali ke hotel untuk taruh barang belanjaan, kemudian keluar lagi untuk ke Ikea.

Dari hasil cari – cari info, Mega Bangna termasuk mal baru (dan ternyata guedee banget). Jadi paling aman sih ya naik rute yang telah disebut di atas. Karena supir taxi juga belum tentu tahu. Belum lagi kalau nemu yang tidak bisa bahasa inggris sama sekali. Atau worse, jenis taksi yang sengaja ngerjain turis.

Sampai Mega Bangna, puter – puter sebentar, lalu langsung ke Ikea. Dan atas nama mengisi rumah, akuh agak kalap *tertunduk malu. Tapi menjelang kasir, ada beberapa barang yang ga jadi dibeli kok. Dimensinya kegedean, akik takut tidak masuk koper.

Selesai belanja, karena males mikir dan udah cape banget binti kelaperan, kami ke Food Area Ikea. Selesai makan, Mbok yang punggungya terasa sakit request naik taksi.

Untung taxi stand dekat dari Ikea. Turun lift ke lantai basement, jalan sebentar ada taxi stand resmi. Mengangsurkan kartu nama hotel (tip : bawa kartu nama hotel, atau minta staff hotel tuliskan tujuan pergi dalam aksara Thailand. Jadi tinggal kasih saja ke sopir taksi. Rebes),  memastikan pakai argo, lalu masuk taksi deh.

The end hari kedua *Apaaaah??? Belum juga ketemu Tom Yam??

xoxo

JJ

27.3.13

Keep Calm And Go To Thailand : Part 1 – Berbagai Pertemuan

Heiyooo… Sudah lama juga tidak update blog ini ya. Habisnya susah kalik cari waktu karena diamprokin kerjaan 5 orang . Untung belum terhapus  accountnya (bisa kah Google secara sepihak hapus account? *seriusnanya)

Anyway, di ujung post ini sempat berencana untuk antar botjah ke Hello Kitty Land. Kenyataannya malah karena sempat sukses meninggalkan Rania 5 hari karena dinas kantor, saya minta ijin ke the husband untuk melakukan girltrip. And he granted it! *sunsalim

Gerak cepat, was wes wos, akhirnya jari kepleset booking tiket BDO – KUL – DMK . Kemudian jalur pulang DMK – CGK. Wihuuuu. Selamat datang liburaaaaan.

Pertemuan Dengan Girl Friend

Huft.. Menurut saya, salah satu transisi berat ketika pindah ke Bandung adalah tidak bisa sering bertemu dengan berbagai geng (taela) pertemanan yang isinya cewek – cewek ceriwis. My life balance. Ai micu oooool. Dulu masih bisa menenangkan diri dengan : toh di Jakarta memang belum tentu seminggu sekali ketemunya. Bisa sebulan sekali atau lebih lama lagi.

Tapi susah menerapkan itu ke my besties satu ini. Karena hampir per minggu atau per 2 minggu pasti ketemuan untuk nyushi sambil ngomongin orang. *mulut disentil sama malaikat. Bihihihihik. Setelah pindah, tiap ke Jakarta pasti ada saja yang membuat tidak bisa ketemuan. Sayanya yang sudah dibooking geng lain, atau dianya lagi dinas ke luar kota. Jadi setelah 8 bulan (!!!) tidak bertemu, saya sangat menantikan liburan bareng Mbok (panggilan saya ke dia).

Jumat tengah malam, the husband and I picked her up di pool travel di Pasteur, karena flight kami ke Kuala Lumpur adalalah esok harinya jam 08.30.


Pertemuan Dengan Mas Ngebetein dan Mbak Penyelamat di KLCC

There we were. Jam 7.30 sudah cekikikan di Bandara Husein. Penerbangannya berangkat tepat waktu. Sesaat sebelum mendarat di KLCC, crew-nya mengumumkan bahwa kedatangan kami 10 menit lebih awal yaitu yang seharusnya jam 11.30 menjadi 11.20. Lumayan ya.

Ketika we didn't know what lie ahead us....

Imigrasinya… penuh! Tapi setengah jam kelar, kemudian kami langsung berjalan cepat cari counter buat check in lagi. Dimana area check in jauh jauh lebih penuh lagi, dan tidak ada petunjuk konter mana untuk drop baggage ke Bangkok (kami sudah web check in beberapa hari sebelumnya).

Sempat salah antri konter, akhirnya pindah konter untuk ketemu mas yang bilang “You’re too late. 5 minutes late. You can not check in your bag. I will let you in the plane and alert the crew if your luggage is under 7 kg”. Toweeeeww.. “hla memang ini jam berapa sih?” sambil mengedarkan pandangan cari jam dinding, dan di salah satu dinding terpampang : jam 13.00!!!

Ini agak aneh sih. Seluruh prosedur imigrasi 30 menit, bukannya harusnya masih jam 12.00? Bukannya jam tiket harusnya menunjukkan local time? Dimana saya sudah meluangkan waktu 2 jam untuk jam keberangkatan ke Bangkok. Ternyata kok jam 13.00. Kami sudah berusaha memberi pengertian bahwa imigrasinya panjang. Tapi si mas – mas masih tegar tidak mau check in bagasi kami. Cih!

Oh iya, kami tidak bisa naik karena koper teman saya walaupun cabin size, tapi 8 kg. Sedangkan saya bukan cabin-size luggage.

Seumur – umur, baru sekali ini saya ketinggalan pesawat. Lemes. Gimana ini. Bener deh. Kalau saya tidak pergi dengan partner yang ahli travelling, paling juga ngedeprok di pojok. Telpon temen di KL, nginep di apartmentnya , minta ditraktir di Pavillion. *eh?

Kemudian dengan nada yang tidak bisa ditolak, teman saya mendesak si mas “Then what do we do now? When is the next flight to Bangkok? Where is the customer service?.” Yang akhirnya si mas klak klik komputernya, dan memberi tahu ada pesawat berikutnya jam 14.20 yang bisa diurus di konter 66, yang ternyata… di ujuuuung sebelah sana. Ah. Ga salah pilih travel buddy deh. Si Mbok memang sudah capcus backpacking ke eropa, asia.

Geret koper, tentunya konter tersebut isinya penumpang bermasalah semua, bukaaan. Auranya udah ngga sedep deh. Ada yang rombongan teriak teriak, ada yang bolak balik melewati kami lengkap dengan geret kopernya *sengkat!, ada yang mukanya pasrah (termasuk saya!), ada mbak mbak hamil travel sendirian dan Nampak kelelahan.

Di tengah konter chaos itu, ada seorang mbak customer service yang tetap ramah. Tetap tersenyum. Dengan nada tenang “I don’t understand why you can get in the plane. Ow.. you missed the luggage drop. You cannot.” Lalu si Mbak berhasil membantu kami untuk naik pesawat jam 14.20 dengan tambahan biaya…… RM222 per orang. Nyesek dulu yuuk. Yah.. berarti orang kantor kasih kuaci aja yaaa.

Lepas dari konter itu, kami harus buru – buru lagi drop luggage karena sudah last call untuk drop baggage penerbangan kami. Tentunya melintas ruangan luas itu lagi, karena kembali ke konter awal. Lanjut lari – lari cari gate terminal keberangkatan. Hossh… Hoosssh.. Aku lapaaaaarr *lalu mewek teringat pre book meal yang dipesan di penerbangan sebelumnya

Baru juga sampai di area gate, kami putuskan untuk take away meal di sebuah café, sudah kembali dipanggil untuk boarding. Dadah dadah ke duty free shop yang ngga sempat diputari.

Alhamdulillah kami berhasil naik pesawat, perjalanan lancar, turun di Don Muang Airport lengkap dengan pesen ke “Mbok, kalau jalanan ngga macet, kita jadi lanjut nonton Callypso Show ya. Sayang ni kalau sampai hangus juga itu tiket”. Syukurlah imigrasinya singkat saja. Lalu setelah bagagge claim kami bergerak cari taxi via tourist center.

Kemudian kami naik taxi menuju hotel kami di Ekamai, Sukhumvit Soi 63. Ternyata traffic Bangkok cukup bersahabat. Naik tol, turun di awal jalan Sukhumvit, dan tiba di hotel hanya memakan waktu sekitar 40 menit.

Arrival areanya kecil. Supir taksi yang baik hati

Sukhumvit adalah salah satu jalan utama di Bangkok yang kira kira panjangnya dari Blok M sampai Kota. Kemudian di kiri kanannya ada jalan kecil yang namanya Soi – kemudian angka. Jadi karena kami datang dari arah Soi 1, ya cukup jauh juga ya ke Soi 63. Dan jangan bayangkan bisa lihat langit seperti melintas di Jakarta. Karena sepanjang jalan Sukhumvit  terbentang BTS atau Bangkok Sky Train.

Pertemuan Dengan Mbak Asli Thailand Baik Hati

Hotel urusan Mbok. Ternyata Hotel yang kami inapi 4 malam ke depan merupakan chain hotel, kurang lebih sekelas Amaris. Jadi kebayang ya. Budget hotel, ukuran kamar meuni males, sarapan ala kadarnya, dan ada lift *penting.

Check in, ganti baju, mempelajari peta BTS yang dikasih front office. Kemudian kami memutuskan untuk makan berat dulu. Laper bwook. Ndilalah, di seberang BTS, langsung ada mal. Malnya kecil tapi apik. Banyak tenant restaurant dan printilan Jepang. Pun disana banyak sekali keluarga Jepang seliweran. Cupacapacup pilih restaurant : ini kayaknya mahal, ya ampun ini food court babi semua, akhirnya kami saya memaksa memilih... KFC! Nyahahahaha. Benchmark dulu ayam originalnya (masih enakan disini) dan sambelnya (apalagi! lebih enak disini).
 
Oke. Lanjut kembali ke stasiun BTS terdekat yaitu Stasiun Ekamai yang hanya berjarak 5 menit jalan santai dari hotel, sudah sampai di loket tiket. Petugasnya membantu sekali. Jadi untuk beli tiket adalah dengan mesin yang harus dengan pecahan koin Thailand Baht. Tiket antara TBH15 – TBH40, tergantung jarak yang ditempuh. Selesai menukar koin, saya dicolek mbak mbak, DIa mendengar kami harus ke stasiun Shapan Thaksin dan menawarkan untuk bareng. Cikhuuuy..

Naik BTS lumayan penuh (karena malam minggu kali ya), turun di stasiun Siam, ganti BTS, turun lagi di stasiun yang dimaksud.

Kemudian kami mengantri untuk naik kapal. Memang disini kami melihat antrian di 2 arah yang berbeda. Tapi kami tenang – tenang saja. Ada si Mbak handal yang sigap minta saya mengantri di antrian yang pendek. Jam masih menunjukkan pukul 18.20. Wihuuu.. santai ini…. Menurut info yang saya dapat, naik boatnya hanya 10 menit, sementara Callypso Show mulai jam 20.15.

Kapal datang, Alhamdulillah kosong. Tanpa kesulitan berarti, kami naik, dapat duduk dan mulai menikmati pemandangan sungai Chao Praya. Tapi kok… arah kapalnya tidak sesuai peta, ke arah Asiatique? Kemudian saya tanya si Mbak yang duduk sebelahan dengan Mbok “Ini kapalnya akan putar arah?” yang disambut anggukan. Oke deh.

Eh tapi. Kok 10 menit kemudian tidak ada tanda – tanda kapal berputar. Masih di arah yang sama. Saya mutar ke Mbok “Mbok.. jangan – jangan ini mah emang ga ke Asiatique”. Lalu si Mbok ber was wes wos dengan si Mbak. Daaaann… memang si mbak mau ke arah rumah, yang berlawanan dengan ke Asiatique. Nyahahahaha. Baru hari pertama kok udah seru banget gini siiiiiii.

Tapi si mbak memang murni baik hati. Melihat 2 turis melas ini, dia langsung tanya ke kenek kapalnya di dermaga mana bisa turun (yang tiap melewati dermaga, bak Donkey di Shrek yang bilang “Are we there yet?” puluhan kali, saya pun bertanya “this one?” tiap mendekati dermaga. Hihihi). Lalu akhirnya di sebuah dermaga untuk turun, kami ucapkan terima kasih si mbak, ternyata… dia ikut turun juga! Hanya untuk memastikan kami naik kapal yang benar untuk ke Asiatique, baru dia cari kapal lain untuk dirinya. Ya ampuuuun.. baik banget sih Mbaaaak. Setelah salaman dan berulang ulang bilang khop kun khab, kami pun berpisah.

berkah salah naik kapal : bisa liat landmark di malam hari, lalu dadah2 juga ke those fancy dinner cruise. Hihihi

 Pertemuan Dengan…rrrr… Yang Dulunya Bukan Mbak Mbak

Okay. Kami akhirnya naik kapal ke arah yang benar. Tapi sempet siiih.. nanya juga ke kenek “We want to go to Asiatique” yang dijawab “Yea Yea.. last stop”. Amaaaan.

Sampai di Asiatique , tentunya sudah jam 20 kurang. Hooosssh.. mana itu gedung Callypso Show? Karena kami harus menukarkan voucher yang dibeli menjadi tiket. Karena mepet, tentunya kami tidak sempat cari – cari makan dulu.

Masuk ke ruangan pun hampir 98% penuh. Dan tak berapa lama, show dimulai


Akik antara melongo (mulus amat, lincah bener), cekikikan (e buset.. gue aja ngga bisa nari kayak gitu), senep (MULUS AMAAAAT. PADA LANGSING AMAAAAT). Selama show berlangsung, tentunya juga sembari cari – cari yang paling cantik untuk diajak foto bareng sehabis show (jangan lupa kasih tip yaaa). Dan pilihan jatuh ke Mbak yang mukanya agak – agak bulek.

yang kiri kecengan eikeee.. aslinya lebih cantik

Review singkat saya… kalau budget travel tidak terlalu ketat, ada waktu, nonton lah. Kalau pergi rombongan, dan kamu tidak mau nonton, jangan manyun. Di area Asiatique banyak yang menarik untuk di eksplor kok. Mulai dari makanan, toko – toko, sampai spot foto.



Itinerary hari pertama pun Alhamdulillah tercapai. Sampai di hotel jam 00.00, maksain mandi lanjut bablas tidur.

Cubikontinyu

xoxo

JJ