14.8.12

Drama ASI : Part 6 – What Is This Lump ?


Rania pun semakin jarang dibawa ke kantor, meninggalkan saya kangen sangat tiap kali ke kantor. Bzzzzzt. Pompaan masih defisit. Rania perlu 4-5 botol @ 130ml tiap ditinggal kerja, sedangkan saya bawa pulang 2,5 – 3 botol.

But just when i thought everything would be smooth…

Around December 23rd, I noticed a lump on my upper right breast.

Ah.. brenjelan lagi ini maaah. Marilah dipijat, dikompres.

January, 7th.. the lump was still there. Saya kabari the husband, yang setuju dengan saya. Brenjelan aja kali. Pijat yang rajin. Kompres hangat – dingin bergantian yang rajin.

January 14th, the lump was still there. Tidak mengecil, tidak membesar. Tidak terasa sakit kalau disentuh. Tidak mempengaruhi jumlah pompaan.

But it was

However

Still

A lump

That shouldn’t be there.

Dan ini sudah berlangsung 3 minggu. Ga bener ah. Kemudian saya telpon the husband, bilang mau ke Dr Asti. You know.. just to make sure what it was.

Rabu, 18 Januari 2012, saya bertemu dengan Dr Asti. Langsung ke pokok masalah, saya bilang there was lump on my upper right breast that had been there for 3 weeks. And I wanted to eliminate what it was. *muka sedikit cemas bin gugup

Kemudian sambil memeriksa dengan memijat – mijat benjolan itu beliau berkata ‘ Ibu tidak usah khawatir. Ini bukan kanker atau apa. Tapi ini memang sepertinya ASI yang tidak tuntas keluar ‘ Lega.. Mak plong… Karena – saya tidak tahu ‘bakat’ kanker itu diturunkan atau tidak – keluarga dari garis ibu ada 3 yang kena kanker. Dan pikiran itu sempat terlintas di benak saya.

Beliau mendiagnosa benjolan tersebut sebagai Galactocele Mammae. Kemudian beliau meminta saya untuk terapi ultrasound setiap hari selama 1 minggu, dimulai dari hari itu juga. Kemudian saya langsung ke lantai fisioterapi. Dari hasil mengobrol dari terapisnya, ternyata terapisnya berasal dari klinik tsk.. saya lupa yang di depan RSPP Jl. Kyai Maja. Aha! Lebih dekat dari rumah. Tapi sayangnya klinik tersebut tutup jam 18.00 sementara di RS ini jam 19.00.

Kembalilah saya juggling dengan mencoba memberi pengertian kembali kepada atasan langsung saya bahwa selama seminggu ke depan saya ijin pulang cepat jam 15.30. Karena kalau menunggu jam pulang kantor jam 16.30, tidak akan keburu baik ke Kyai Maja maupun melintas ke daerah Jakarta Selatan. Eh.. RS itu masuk Jakarta Selatan ga ya ?

Saya bisa merasakan atasan langsung saya kurang berkenan memberi saya ijin pulang cepat, dan saya diminta menghadap langsung ke kepala unit kerja (the one who granted me bringing Rania). Untunglah, berbekal surat rujukan terapi dari dokter, beliau mengizinkan saya untuk pulang cepat.

Kamis, Jumat (dengan membawa Rania dan Mbak Sri karena stok ASIP tipis) saya ke RS. Hujan ples macet ngga ketulungan mengiringi perjalanan kami di hari - hari itu. Sabtu, Selasa (karena Minggu libur dan Senin Imlek) saya ke Kyai Maja. Pulang ke rumah overall biasanya sudah mau jam 21 atau 22. Zzzzzt…

Kembali ketemu di hari Rabu, 25 Januari 2012, saya pergi sendiri ke RS. Pagi hari. Ijin ke atasan saya, dengan janji setelah selesai saya akan langsung ke kantor karena ketika itu ada laporan urgent yang harus saya kerjakan. Dan sebelum masuk ke ruang dokter, saya melakukan fisioterapi dulu. Benjolan itu hanya sedikit saja perubahan. Dari yang sebelumnya bulat jadi agak memipih. But it was still there.

Kembali diperiksa, dan beliau bergumam ‘tidak berubah ya’. Dan memang beliau bilang, kalau dalam seminggu tidak ada perubahan, akan dirujuk ke spesialis bedah.

Beliau meyakinkan saya, spesialis bedah yang akan ditemui pintar (ya iya lah dook =D) dan tuntas. Bahwa semua pasien beliau yang dirujuk ke sana, semuanya terselesaikan. Beliau berkata semua itu sambil menulis di form rujukan, yang dengan kemampuan saya bisa membaca dari arah seberang, saya bisa melihat beliau menulis…

Indikasi tumor.

Daaaangg…

Saya pun.. berlinang air mata. Dan dengan suara gemetar ‘I i itu benar, Dok ?’

Dan sukses dihardik Dr Asti ‘Yaaa.. Ibu ! Belum ketemu dokternya juga sudah nangis.’

Ngok. Sep. Saya mencoba menyusutkan air mata. Dan berusaha berpikir sejernih mungkin. I’m alone. Nelongsonya di situ. Tapi saya juga harus mendengarkan dengan cermat semuanya.. dengan tingkat keberhasilan 70%.

Namun satu yang saya dengar, adalah ini nyaris pasti harus dioperasi. Kemudian beliau bertanya apakah bisa menunggu jam 16.00 untuk ketemu dengan dokter spesialis bedah tersebut. Yang saya jawab, ini saja harus ke kantor. Kemudian beliau menelepon langsung dokter spesialis bedah tersebut – which i learn later her name is dr Myra – dan beliau membujuk supaya dr Myra agar segera datang ke RS karena ada rujukan (saya). Dan alhamdulillah, dr Myra menyanggupi datang jam 13.00.

Menunggu lah saya 2 jam di restauran mungil di RS. Pesan makan karena belum sarapan ketika berangkat. Duduk mojok. Nelpon suami mengabari situasinya. Dan I asked him to come malam itu juga. Kalau benar harus operasi, ngga sanggup kayaknya kalau ngga didampingi.

I didn’t call home. Karena saya tahu, Ibu saya lebih baik diberitahu langsung dari pada lewat telpon. SMS atasan saya mengenai situasinya, mompa di ruang menyusui, bengong bengong sedih. Begini amat yak 7 bulan ini.

Akhirnya dr Myra tiba (and my! She’s beautiful. Sini yang habis nangis jadi keder)

Beliau membaca status saya, dan ketika saya berbaring, baru juga dilihat dan belum dipegang benjolannya beliau bertanya, ‘Ini kok memerah (maksudnya permukaan kulit area benjolan) ? Merah dari kapan ini ?’ Yang saya jawab kayaknya baru 2 hari ini.

‘Bu, ini sepertinya sudah abses. Saya ambil jaringannya sedikit ya.’ Slruup.. berbekal suntik jarum tipis (ya tapi masih sakit ya), akhirnya keluar cairan pekat putih kekuningan. ‘ini. Bu lihat ya. Benar sudah menjadi abses.’

Pertanyaan orang awam #1 ‘abses itu apa ya, dok ?’

‘Nanah, Bu.’

Sukses terpaku. Kok. Bisa. Jadi. Gini. Kejadiannya.

Kemudian beliau melanjutkan menerangkan, bahwa memang harus diambil tindakan. Bahwa abses tersebut harus disedot – istilahnya di suction-, dan ini harus cepat. Dan dijadwalkanlah untuk operasi. Keesokan harinya.

‘Harus secepat itu, dok ?’ tanya saya

Yang beliau jawab bahwa beliau  merekomendasikan untuk sesegera mungkin. Karena tidak tahu, abses-nya sudah sampai kemana saja.

Saya hanya mampu menurut. Keluar ruang praktek langsung mengurus administrasi persiapan rawat inap dan operasi. Kepala berdengung dengung. Mengawang awang ketika dijelaskan pihak administrasi mengenai biayanya. Sana lah. Gesek saja kartu kredit saya, Mbak Kasir. Ambil darah untuk serangkaian tes pre-operation. Selesai itu, baru saya naik taxi menuju kantor.

Dan di taxi, baru saya kembali telpon the husband. Dan dia dengan nada tegang langsung jawab ‘Bada maghribh aku berangkat’

Sesampainya di kantor, saya menghadap atasan dengan membawa surat dokter, menjelaskan bahwa sampai akhir Januari tidak masuk kantor karena akan operasi.

Hari itu saya baru pulang dari kantor pukul 21.30. Sampai di rumah sejam kemudian, tidak sanggup untuk berbenah. Tak lama, the husband datang. Dan saya sedikit tenang.

To be continued

xoxo

JJ

2 comments:

winkthink said...

Belum ada updatenya ya mbak..semoga kabar baik..semoga semua baik2 aja..

JJ said...

Halo winkthink,
Belum. Lagi pulkam ni =)
Hibernate dulu sampai september.
Semua baik2 aja kok. Thanks for the thought